Kumpulan Contoh Cerita Fiksi Pendek Untuk Pendidikan Anak

  • 8 min read
  • Mei 26, 2019

Contoh Cerita Fiksi – Mengajarkan anak tentang suatu hal bisa dilakukan dengan cara apapun. Yang paling populer adalah dengan menceritakan dongeng yang berisi tentang pesan moral dan pendidikan. Berbicara tentang dongeng, karya tulis ini masuk dalam kategori cerita fiksi. Nah, apa sih sebenarnya cerita fiktif atau fiksi itu? Berikut penjelasan mengenai pengertian cerita fiksi, struktur cerita fiksi, dan tentunya contoh cerita fiksi singkat untuk dongeng anak anda.

Ada yang disebut dengan cerita yang sifatnya fiksi, ada pula cerita yang sifatnya non fiksi. Apa perbedaan keduanya? Pertama mari dilihat dari pengertiannya terlebih dahulu. Cerita fiksi adalah prosa naratif yang mana sifatnya adalah imajinasi (imajiner). Meskipun imajiner, karya tersebut harus tetap logis dan terdapat kebenaran di dalamnya.

Ada juga yang menyebut cerita ini adalah karya sastra rekaan atau imajinasi yang bukan dari kejadian nyata. Namun, tentu saja sang penulis menciptakan karya itu berdasarkan olahan pengalaman dan wawasannya baik imajinasi bahkan nyata sekalipun.

Contoh cerita fiksi untuk anak-anak juga beragam, mulai dari novel, cerita pendek, dongeng, komik masih banyak lagi lainnya. Sedangkan untuk cerita non fiksi adalah kisah atau cerita yang didasarkan pada kejadian sebenarnya. Jika cerita yang bersifat fiksi tujuannya adalah untuk memberikan hiburan sekaligus pembelajaran, maka cerita yang sifatnya non fiksi lebih bertujuan untuk memberikan informasi atau informatif. Nah, untuk memahami lebih baik, berikut adalah beberapa perbedaan antara keduanya.

Perbedaan Cerita Fiksi dan Non Fiksi :

1. Sifat dan Sumber Cerita
Berdasarkan pengertian dari cerita fiksi pendek yang sudah dijelaskan di atas, serta contoh cerita fiksi yang ada, cerita ini bersifat fiktif atau hanya berdasarkan imajinasi dari penulisnya saja. Ide pembuatannya bisa saja hanya benar-benar rekaan atau bisa juga berdasarkan pengalaman nyata yang diolah dan didramatisasi agar terlihat lebih menarik. Berbeda dengan ceita non fiksi yang sifatnya informatif, pembuatannya pun berdasarkan data yang bisa dipertangung jawabkan.

2. Struktur Cerita
Selanjutnya yang membedakan antara cerita fiksi dan non fiksi bisa dilihat dari strukturnya. Cerita yang bersifat fiksi memiliki struktur layaknya struktur penulisan narasi umumnya, yaitu terdiri dari abstrak, orientasi, kompilasi, evaluasi, resolusi dan reorientasi. Struktur ini bisa ditemukan bahkan pada cerita fiksi pendek anak-anak. Berbeda dengan cerita non fiksi yang strukturnya hanya terdiri dari orientasi dan urutan peristiwa saja.

3. Contoh Cerita
Berdasarkan dua perbedaan di atas, ada beberapa contoh yang merupakan contoh dari karya fiksi maupun non fiksi. Contoh cerita fiksi biasanya berbentuk cerita dongeng, cerita pendek, hingga komik. Yang paling banyak adalah dalam bentuk dongeng yang mengandung pelajaran moral atau pendidikan di dalamnya. Misalnya dongeng kancil, legenda Candi Prambanan dan masih banyak lagi lainnya. Sedangkan contoh cerita non fiksi misalnya kisah pengalaman berlibur yang biasanya dibuat anak-anak.

Contoh Cerita Fiksi Harimau dan 3 Ekor Rusa :

Disebuah hutan hiduplah tiga ekor rusa kecil yang hidup bersama dengan ibunya. Ke-3 ekor rusa kecil ini demikian cepat tumbuh besar. Pada suatu hari ibunda mereka memberikan mereka saran untuk bangun tempat tinggal semasing supaya terlepas dari harimau. Harimau ialah binatang yang sangat ditakuti oleh ke-3 ekor rusa ini serta ibundanya. Spontan mereka cemas, mereka yang tetap berlaku seperti rusa yang masih tetap kecil serta manja saat ini mesti hidup mandiri.

Tibalah waktu mereka mandiri, saat mereka berjalan bertemulah ke-3 ekor rusa itu dengan seseorang yang membawa jerami. Secara cepat serta tiada fikir panjang, rusa pertama minta jerami itu. Pada akhirnya rusa pertama bangun rumah memiliki bahan jerami. Rusa ke-3 semakin putus harapan saat rusa ke-2 berjumpa dengan seorang yang membawa kayu serta kayu itu dikasihkan pada rusa ke-2 dan secara cepat dia bangun rumah itu.

Rusa ke-3 dalam keputusasaan tapi dia masih sabar. Pada akhirnya dia terasa suka ketia dia berjumpa dengan seorang yang membawa bata serta memberi bata itu kepadanya. Dalam waktu cepat rumah itu berdiri kuat serta rusa ke-3 meyakini jika harimau tidak akan memangsanya.

Permasalahan juga hadir, harimau mendatangi rumah setiap rusa. Dengan sekali tiup saja, rumah rusa pertama serta ke-2 langsung rubuh tidak bersisa termasuk juga beberapa pemiliknya si rusa pertama serta ke-2. Dengan perut yang kenyang harimau mendatangi rumah rusa ke-3, tentunya untuk memangsanya lagi. Ditupnya rumah rusa ke-3 berkali-kali, sampai angin dari tiupannya tidak bisa berhembus lagi. Harimau geram serta kembali terasa lapar.

Dengan beberapa akal harimau merayu rusa ke-3. Dari mulai berjumpa di kebun lobak jam empat sore. Tetapi rusa ke-3 tahu jika harimau ingin memangsanya. Rusa ke-3 hadir lebih awal serta isi keranjangnya dengan lobak sampai penuh. Harimau semakin jengkel, dia juga terus-terusan merayu rusa ke-3 tetapi rusa ke-3 makin cerdas.

Tiap-tiap penawaran harimau dijawab dalam kata dia, tetapi dia tetap hadir lebih awal serta tinggalkan harimau supaya selamat. Walau dia mesti menggelinding dalam satu tong yang dia beli saat memiliki janji dengan harimau berjumpa di festival.

Selanjutnya harimau termakan oleh gagasannya sendiri. Riwayatnya selesai saat dia ingin masuk ke rumah rusa ke-3 melalu cerobong asap. Rusa ke-3 yang benar-benar cerdas, dengan sigap memanaskan air dalam panci tidak bertutup serta ditempatkan pas di atas tungku sampai panas.

Lalu, harimau juga jatuh serta tersiram bahkan juga di rebus hidup-hidup dalam panci yang berisi air panas itu. Keseluruhannya, buku narasi dongeng Tiga Rusa Kecil ini mempunyai jalur yang begitu menarik serta anggota beragai ide. Pesan-pesan moralnya sangat banyak serta berguna terpenting untuk anak-anak. Dalam pemaparannya ikut dipakai bahasa yang gampang dimengerti.

Akan tetapi, ada satu kekuangan, yakni dalam narasi ini kurang diuraikan perasaan gotong royong serta kekeluargaan dari beberapa tokohnya terpenting tiga ekor rusa kecil. Meskipun mereka ingin bangun rumah sendiri, tapi perasaan gotong royong itu begitu dibutuhkan.

Contoh Cerita Fiksi Gadis Kecil dan Dewi Bulan

Andini ialah seseorang gadis desa yang miskin. Mukanya cukup suram, karena dia menanggung derita penyakit kulit di mukanya. Beberapa orang desa seringkali takut bila berpapasan denganya. Andini pada akhirnya tetap memakai cadar.

Dalam satu malam, Andini punya mimpi berjumpa dengan pangeran Rangga. Putra Raja itu populer dengan keramahannya serta ketampanannya. Andini ingin berteman dengannya. Dia juga semakin seringkali mengimpikan Pangeran Rangga.

“Sudahlah, Andini! Buang jauh-jauh mimpimu itu!“ kata Ibu Andini, saat lihat anaknya termangu di muka jendela kamar. “Ibu tidak punya maksud menyakiti hatimu. Kamu bisa suka pada siapapun. Tetapi Ibu tidak mau pada akhirnya kamu sedih,“ papar Ibu Andini lembut.

Sebetulnya Andini ikut sadar. Mimpinya sangat tinggi. Beberapa orang desa saja takut memandangnya, ditambah lagi pangeran Rangga. Fikir Andini.
Dalam satu malam, Andini lihat panorama alam yang begitu indah. Bulan cemerlang jelas di langit. Cahayanya lembut keemasan. Di sekelilingnya, terlihat bintang-bintang yang berkelap-kelip. Malam itu demikian cerah.

“Sungguh cantik!“ gumam Andini. Matanya kagum melihat mengarah bulan.
Tidak diduga saja Andini ingat pada suatu dongeng mengenai Dewi Bulan. Dewi itu tinggal di bulan. Dia begitu cantik serta baik hati. Dia seringkali turun ke bumi untuk membantu beberapa orang yang kesulitan. Di desa Andini, tiap-tiap ibu yang ingin memiliki anak wanita, tetap mengharap anaknya seperti Dewi Bulan.

Dahulu, saat Andini masih tetap kecil, mukanya juga secantik Dewi Bulan, menurut Ibu Andini.
“Aku ingin meminta pada Dewi Bulan supaya saya dapat canti lagi seperti dahulu. Tapi…, ah.., tidak mungkin! Itu tentu cuma dongeng!” Andini selekasnya menghalau harapannya. Sesudah senang memandang bulan, Andini tutup rapat jendela kamarnya. Dia bergerak untuk tidur dengan hati susah.

Andini ialah gadis yang baik. Hatinya lembut serta senang membantu orang yang lain. Satu sore, Andini bersiap-siap pergi mengantar makanan untuk seseorang nenek yang tengah sakit. Walau rumah nenek itu cukuplah jauh, Andini ikhlas menjenguknya.

Sepulang dari rumah si nenek, Andini kemalaman di dalam perjalanan. Dia bingung sebab kondisi jalan demikian gelap. Tidak tahu dari tempat mana aslinya, tidak diduga, muncul beberapa ratus kunang-kunang. Sinar dari badan mereka demikian jelas.

“Terima kasih kunang-kunang. Kalian sudah menerangi jalanku!“ kata Andini lega.
Dia berjalan, serta selalu berjalan. Akan tetapi, walau cukup sudah jauh berjalan. Andini tidak ikut sampai di tempat tinggalnya. Andini tidak ikut mememukan tempat tinggalnya.

“Kusara saya telah tersesat!“ gumamnya cemas. Nyatanya beberapa kunang-kunang sudah mengarahkannya masuk ke rimba.
“Jangan takut, Andini! Kami membawamu ke sini , supaya wajahmu dapat sembuh,“ tutur seekor kunang-kunang.
“Kau?Kau dapat bicara?“ Andini memandang heran seekor kunang-kunang yang terbesar.
“Kami ialah utusan Dewi Bulan,“ jelas kunang-kunang itu.
Andini pada akhirnya datang di pinggir danau. Beberapa kunang-kunang beterbangan ke arah langit. Demikian kunang-kunang menghilang, perlahan awan hitam di langit mengungkap. Keluarlah cahaya bulan purnama yang jelas benderang.
“Indah sekali!“ Andini kagum. Kondisi di seputar danau jadi jelas.
Andini memerhatikan bayang-bayang bulan diatas air danau. Bayangan purnama itu demikian bundar prima. Selang beberapa saat, pas dari bayangan bulan itu nampaklah figur wanita berparas cantik.
“Si…siapa kau?“ bertanya Andini kaget.
“Akulah Dewi Bulan. Saya hadir untuk mengobati wajahmu,“ papar Dewi Bulan lembut. “Selama ini kau sudah mendapatkan ujian. Sebab kebaikan hatimu, kau memiliki hak terima air kecantikan dariku. Usaplah wajahmu dengan air ini!“ lanjut Dewi Bulan sekalian memberi sebotol air.
Dengan tangan gemetar Andini menerimanya. Perlahan Dewi Bulan masuk kembali ke bayang-bayang bulan di permukaan air danau. Lalu dia menghilang.
Andini selekasnya membersihkan mukanya dengan air pemberian Dewi Bulan. Malam itu, Andini tertidur di pinggir danau.

Namun, benar-benar ajaib! Keesokannya. Dia sudah ada di kamarnya sendiri lagi. Saat bercermin, dia begitu senang lihat kilit mukanya sudah halus lembut kembali seperti dahulu. Dia sudah canti kembali. Ibunya heran serta senang.
“Bu, Dewi Bulan nyatanya betul-betul ada!“ narasi Andini.

Secara cepat kecantikan wajah Andini menyebar kemana saja. Bahkan juga sampai ikut ke telinga Pangeran Rngga. Sebab ingin tahu, Pangeran Rangga juga mecari Andini. Kedua-duanya pada akhirnya dapat berjumpa. Andini begitu gembisa dapat berteman dengan pangeran idola hatinya.

Contoh Cerita Fiksi Anak Kurcaci Kecil dan Mangga Ajaib

Peter, sang kurcaci penggali sumur mempunyai sebatang pohon mangga ajaib di tempat tinggalnya di dalam rimba Morin. Buahnya berwarna-warni sesuai dengan warna cabangnya. Pohon mangga ini adalah pohon ajaib di kelompok beberapa kurcaci di rimba Morin. Pohonnya bercabang lima seperti jari tangan

dengan warna yang berlainan. Tiap-tiap warna memiliki khasiatnya sendiri. Buah merah cabang ibu jari, bermanfaat mengobati penyakit asma. Buah hijau cabang telunjuk, bermanfaat mengobati sakit perut. Buah kuning cabang jari tengah bermanfaat mengobati penyakit mata.

Buah putih cabang jari manis bermanfaat percantik muka. Seperti bentuk jari manis yang anggun, mangga putih seringkali dipesan kurcaci wanita untuk percantik muka serta badan, supaya masih fresh serta penuh pesona. Nah, buah biru cabang kelingking, kecil serta cukup ringkih. Buah biru bermanfaat mengobati penyakit lupa. Semua kurcaci yang pelupa di rimba Morin, langsung sembuh ingatannya saat mengonsumsi mangga biru. Intinya nyos deh khasiatnya.

Satu hari, Peter, pergi menggali sumur di desa samping rimba Morin. Tidak diduga matanya terserang pecahan batu galian. Wah, bahaya jika tidak cepat diatasi. Peter lantas ambil mangga kuning dari dalam tasnya, lalu dimakannya. Ajaib, saat itu ikut sakit mata Peter kembali sembuh. Saat hari mulai sore, Peter pulang ke rimba. Di dalam perjalanan Peter berjumpa seseorang Ibu tua yang sakit asma. Peter jatuh kasihan, lalu dia ambil mangga merah dari tasnya serta dikasihkan pada Ibu tua itu.

Sesudah ibu tua mengkonsumsinya, saat itu ikut sembuhlah penyakit asmanya. Ibu tua lantas mengatakan terima kasih pada Peter. Wis meneruskan perjalanan pulangnya. Kembali Peter berjumpa dengan Kakak beradik yang tengah duduk diatas batu di tepi sungai.

“Aduh, sakit perutku, kak!” kata anak lelaki sekalian meringis kesakitan memegang perutnya.

“Sakit sekali ya, dek?” bertanya Kakak perempuannya yang jelek rupa.

“Iya kak, saya telah tidak tahan lagi,” kata anak lelaki meredam sakit.

Peter yang dengar pembicaraan itu menanyakan, “Ada yang dapat saya membantu?”

“Oh, iya pak kurcaci, Adikku perlu pertolongan. Dia sakit perut, mungkin kebanyakan makan jambu air,” sang Kakak memberi tahu Peter.

Peter ambil mangga hijau dari dalam tasnya serta dikasihkan ke anak lelaki itu.

“Nah, makan ini!” kata Peter sekalian menyerahkan mangga itu.

Peter memandang Kakak wanita yang jelek rupa lalu jadi iba. Peter lantas ambil mangga putih serta dikasihkan pada sang Kakak.

“Saya tidak sakit pak kurcaci,” kata sang Kakak.

“Kamu ikut bisa mengkonsumsinya, kelak kamu akan tahu khasiatnya!” jawab Peter.
Pada akhirnya ke-2 Kakak beradik itu mengonsumsi buah mangga dari pohon ajaib itu.
“Haa? Saya bisa saja cantik? Kulitku jadi putih serta halus!” sorak sang Kakak wanita jelek rupa kagum dengan pergantian yang barusan berlangsung.

“Aku juga pulih, kak! Perutku telah tidak mules lagi,” kata si anak lelaki.

“Wah, terima kasih ya pak kurcaci. Kami begitu mujur berjumpa kamu ini hari. Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” kedua-duanya mengemukakan perasaan terima kasihnya berkali-kali. Peter cuma tersenyum dengar perkataan terima kasih itu.

Mendekati tempat tinggalnya di rimba, Peter berjumpa dengan seseorang Kakek. Keliatannya sang Kakek tengah kebingungan.
Peter mendekati si Kakek serta menanyakan, “Ada apakah, kek? Ada yang dapat saya membantu?” bertanya Peter lembut.

“Iya, saya perlu pertolongan. Saya ingin pulang ke rumah saya di tepi rimba tetapi saya lupa jalan pulangnya. Saat ini saya tersesat,” tutur sang Kakek yang pelupa.

“Oh janganlah cemas, kek. Kakek makan saja mangga biru ini!” kata Peter sekalian menyerahkan mangga paling akhir dari dalam tasnya. Sesaat lalu tampaklah reaksinya. Kakek mulai sadar serta sudah tahu arah ke tempat tinggalnya.
“Terima kasih, saat ini saya jadi tahu jalan pulang ke rumah!” kata Kakek suka.

“Oke, berhati-hati ya, kek!” jawab Peter sopan.

Nah, lengkaplah telah pekerjaan Peter hari itu, mengobati lima penyakit dengan buah mangga ajaib. Sehari-hari, Wis si kurcaci serta mangga ajaibnya selalu mengobati siapapun yang memerlukan pertolongan.

Narasi atau cerita banyak digunakan sebagai media belajar di sekolah. Yang paling banyak digunakan adalah contoh cerita fiksi, dengan kemasan yang menarik dan kandungan pembelajaran moral di dalamnya. Namun bukan berarti cerita non fiksi juga tidak digunakan. Contoh cerita non fiksi tentang pendidikan banyak digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah, terutama untuk jenjang sekolah dasar.

Itulah tadi kumpulan contoh cerita fiksi anak untuk dipetik hikmah dan pelajarannya. Selain itu juga terdapat penjelasan tentang perbedaan antara cerita fiksi dan cerita non fiksi. Dari penjelasan di atas, kini Anda sudah bisa membedakan antara narasi fiksi dan non fiksi bukan? Kedua jenis narasi ini adalah jenis narasi atau cerita yang banyak digunakan sebagai media belajar. Meskipun keduanya memiliki perbedaan yang signifikan namun tetap bisa menyampaikan pesan yang sama.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *